Pengertian Hadits Hasan, Syarat, Jenis dan Kedudukannya

Hadits hasan secara bahasa adalah indah, baik. Sedangkan secara istilah hadits hasan adalah hadits yang sanadnya bersambung dan diriwayatkan oleh perawi yang adil juga kedudukannya terkenal ataupun masyhur kemudian hadits hasan ini dapat diterima dikalangan para ulama dan juga dapat dipakai oleh para fuqoha ataupun ahli fiqh. Lain hal dengan hadits mutawattir, hadits mutawattir mensyaratkan diriwayatkan oleh banyak perawi dan diyakini tidak akan sepakat berdusta.

Syarat syarat hadits hasan

Ada lima syarat yang harus dipenuhi agar sebuah hadis bisa digolongkan sebagai hadis Hasan. Diantara syarat hadits Hasan antaralain:

1. Adanya perawi yang bersifat adil, adil disini maksudnya perawi adalah orang yang taat terhadap ajaran Alloh dan rasulnya.

2. Sanadnya bersambung artinya setiap periwayat dapat bertemu dan dapat saling menerima suatu hadits yang sanadnya bersambung kepada Rasululloh SAW.

3. Tidak adanya illat atau kecacatan , cacat disini maksudnya dalam meriwayatkan hadist tidak ditemui kecacatan makna ataupun lafadznya

4. Tidak adanya sesuatu yang janggal, janggal disini maksudnya adalah sesuatu yang sekiranya menyalahi aturan.

5. Tidak adanya pertentangan dengan hadits yang lebih kuat.

Jenis-jenis hadist hasan

Secara umum Hadist Hasan dibagi menjadi dua, yakni Hadis Hasan Li-Dzatih dan Hadist Hasan Li Ghairih.

Hadist Hasan Li-Dzatih

Hadist Hasan Li-Dzatih yaitu hadist yang dari dasarnya telah memenuhi  persyaratan hadist hasan, yaitu para perawinya terkenal kebaikannya, akan tetapi daya ingat dan hafalan mereka belum bisa sampai kepada derajat para perawi yang shahih.

Adapun contoh Hadist Hasan Li-Dzatih adalah sebagai berikut :

“Dari Ibnu Umar dari Muhammad bin al-Mutsannaa dari Muhammad bin Abi Adiy dari Muhammad bin ‘Amr dari Ibnu Syihab dari Urwah bin az-Zubair dari Fathimah binti Abi Hubaisy bahwasanya ia mengalami istihadhah, kemudian Nabi SAW bersabda: ‘Darah haid itu kehitaman sudah dikenal. Jika darahnya seperti itu janganlah melakukan sholat. Jika ciri darahnya tidak seperti itu, berwudhu’lah dan sholatlah karena itu adalah urat (yang terluka).’” (HR. Abu Dawud)

Hadist Hasan Li-Ghairih

Hadits hasan li ghoirihi adalah hadits hasan yang derajat hasan nya tidak dengan sendirinya tetapi dibantu oleh hadits lain yang telah memenuhi derajat hadits hasan

Adapun contohnya adalah sebagai berikut:

“Rasulullah SAW, bersabda: Hak bagi seorang Muslim mandi di hari Jumat, namun jika ia tidak memperoleh airpun cukup dengan mengusap wangi-wangian keluarganya.” (HR.Ahmad).

Tiga Contoh Hadits Hasan

Berikut ini adalah lima contoh dari hadits Hasan yaitu:

طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ

“Sifat parfum laki-laki, baunya nampak sedangkan warnanya tersembunyi. Adapun sifat parfum wanita, warnanya nampak namun, baunya tersembunyi.” (HR. Tirmidzi, no. 2787; An-Nasa’i, no. 5120)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ مُحَمَّدٍ يَعْنِي ابْنَ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِي حُبَيْشٍ أَنَّهَا كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضَةِ فَإِنَّهُ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنِ الصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي فَإِنَّمَا هُوَ عِرْقٌ

(Abu Dawud berkata) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsannaa (ia berkata) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Adiy dari Muhammad, yaitu bin ‘Amr ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu Syihab dari Urwah bin az-Zubair dari Fathimah bintu Abi Hubaisy bahwasanya ia mengalami istihadhah. Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Darah haid itu kehitaman sudah dikenal. Jika darahnya seperti itu janganlah melakukan sholat. Jika ciri darahnya tidak seperti itu, berwudhu’lah dan sholatlah karena itu adalah urat (yang terluka) (H.R Abu Dawud, dihasankan oleh Ibnul Arobiy .

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad).

KEDUDUKAN HADITS HASAN

Para Ulama sepakat berpendapat  jika tingkatan hadits hasan berada sedikit di bawah tingkatan hadits shahih, tetapi mereka juga  berbeda pendapat terkait kedudukannya sebagai sumber hukum Islam. Sebagian ulama ahli hadits menolak hadits hasan sebagai sumber hukum  dalam bidang hukum begitu juga dalam bidang aqidah. Sebaliknya (mayoritas) ulama memperlakukan hadits hasan seperti hadits shahih, para ulama  menerima hadits hasan sebagai sumber hukum atau sumber ajaran Islam, baik dalam bidang hukum, akhlak ataupun  dalam bidang aqidah

Leave a Comment