Adab Suami Istri dalam Islam

Allah Memerintah kan kaum lelaki untuk mempergauli istri mereka dengan baik karena para wanita diciptakan sebagai makhluq yang memiliki kekurangan dalam akal dan agamanya. Seperti halnya sabda Rasulullah yang berarti: aku tak pernah menemukan makhluq yang memiliki kekurangan dalam akal dan agamanya namun bisa meluluhkan hati para lelaki melebihi salah satu dari kalian (wanita).

Hikmah Kekurangan Akal dan Agama pada Wanita

Mengapa wanita diciptakan dengan kekurangan dalam akalnya? Sebab Allah menganugerahkan perasaan pada para wanita. Yang mana perasaan itulah yang bisa menetralisir akal yang terlampau keras maupun kaku. Sehingga Allah menebarkan kasih sayangNya secara merata dalam keluarga melalui sosok wanita.

Adapun kekurangan dalam agama, sebab wanita memiliki periode menstruasi dan nifas, yang mana menstruasi dan nifas itupun merupakan kasih sayang Allah pada para wanita. Ketika wanita menstruasi, Allah mengistirahatkan mereka dari beberapa rutinitas ibadah sekaligus mengistimewakan mereka. Saat wanita dalam keadaan menstruasi, amalan yang biasa ia istiqomahkan akan tetap tercatat sebagai amalan baginya meski dia sedang tak bisa beramal, seperti halnya shalat Tahajjud, dhuha, puasa sunnah, baca Al Quran dan beberapa ibadah yang tak boleh dilakukan ketika menstruasi.

Begitu pula saat nifas, Allah membuka pintu pahala bagi wanita ketika ia menjadi seorang Ibu. Ketika ia baru saja melahirkan, ia pun seperti terlahir kembali tanpa dosa. Dan Allah mengistirahatkannya dari rutinitas ibadah karena pergantian statusnya sebagai Ibu sehingga ia bisa lebih konsentrasi merawat anaknya yang merupakan ibadah baru baginya. Sungguh Allah sangat menyayangi wanita dengan diciptakannya mereka sebagai makhluq yang memiliki kekurangan dalam akal dan agamanya.

Oleh karena itu Rasulullah bersabda yang artinya:

Yang terbaik dari kalian adalah yang terbaik merawat istrinya, dan akulah sebaik-baik kalian dlm merawat istriku.

HR IBNU MAJAH

Wanita pula diciptakan dari tulang rusuk yang Bentuknya melengkung, itu mengisyaratkan bahwa selamanya wanita akan tetap melengkung, diluruskan pun tak kan bisa, dan tentu saja hal itu tidak terlepas dari kekurangan dalam akalnya. Bisa jadi wanita itu kurang penyabar, kurang pandai menguasai emosi, cengeng dan lain lain. Oleh karena itulah Rasulullah mensabdakan agar lelaki bisa merawat istrinya dengan baik. Menjadi imam yang baik terhadap istri dan anaknya.

Dalam haditsnya beliau menyebutkan:

Rawatlah istri kalian dg baik. Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah atasnya, jika kalian berupaya untuk meluruskannya maka kalian akan mematahkannya, jika kalian biarkan maka ia akan terus menerus bengkok. Maka rawatlah istri kalian dengan baik.

HR BUKHORI MUSLIM

Bahkan wasiyat terakhir Rasulullah sebelum beliau wafat -dan beliau mengatakannya dengan suara yg sangat lirih-, salah satunya adalah tentang merawat istri dengan baik.

Di riwayatkan oleh Imam Annasai dan Imam Ibnu Majah, Rasulullah bersabda yang artinya: Jagalah shalat, jagalah shalat. Serta jagalah budak-budak kalian, janganlah membebankan pekerjaan yg mereka tak sanggup melakukannya. Takutlah pada Allah dalam urusan wanita, takutlah pada Allah dalam urusan wanita, sesungguhnya mereka adalah tawanan dalam genggaman tanganmu, kalian mengambil mereka dengan janji Allah, dan kalian halalkan mereka dengan kalimat Allah.

Dalam hadits lain Rasulullah menyebutkan; harga dan jaga dirilah kalian, maka istri kalian akan menjaga harga diri mereka. Artinya baik dan tidaknya istri adalah tergantung baik dan tidaknya lelaki menjadi imam. Jika seorang suami menginginkan istri yg baik maka langkah awalnya adalah memperbaiki dirinya terlebih dahulu, karena sampai kapanpun makmum hanyalah mengikuti imam.

Sayyidina Aly bin Abi Thalib berkata: kecerdasan wanita terletak pada orientasinya dalam merawat diri (kecantikan) sedangkan ketampanan lelaki terletak pada kecerdasannya. Tentu saja ketampanan tidak akan mampu untuk membangun rumah tangga, karena itu suami adalah otak dalam rumah tangga dan istri adalah anggota badannya.

Banyak keterangan yang menjelaskan bahwa akhlaq yang baik akan membawa kebaikan dunia dan akhirat, sebab tingkatan-tingkatan tinggi di surga terkadang tak mampu dicapai kecuali dengan akhlaq yang baik, dan akhlaq pertama yang harus ditempuh adalah akhlaq dalam rumah tangga. Dimana lelaki harus bisa menjalankan perannya sebagai suami dengan baik, begitu juga wanita harus bisa menjalankan perannya sebagai istri dengan baik pula, sehingga keduanya bisa saling menjadi pakaian bagi satu sama lain. Saling melengkapi maupun menutupi kekurangan yang ada.

Dua Pokok Adab Suami kepada Istri

Terdapat dua pokok adab yang harus dijaga oleh suami terhadap istrinya:

2. Menahan gangguannya serta melupakan rasa tidak enak sebab gangguan tersebut

Yang dimaksud dengan gangguan adalah sifat-sifat buruk yang dimiliki istrinya. Seperti suka marah, suka mencibir. Hendaknya lelaki tak perlu terlalu menganggap serius kekurangan-kekurangan istrinya atau mengambil hati, yang perlu suami lakukan adalah memperbaiki sifat buruk istrinya sedikit demi sedikit serta sabar dalam menghadapinya.

Allah berfirman:


{ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰۤ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَیۡـࣰٔا وَیَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِیهِ خَیۡرࣰا كَثِیرࣰا }
Dan bergaullah dengan mereka (wanita) menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.

[SURAT AN-NISA’: 19]

Sesungguhnya menahan gangguan dari istri saat ia kalut dan marah adalah merupakan akhlaqul karimah, karena hal itu merupakan bentuk belas dan kasih sayang terhadap istri. Rasulullah sendiri adalah sosok suami yg sangat sabar, pemaaf dan mulya seperti yang diucapkan oleh para sahabat: aku tak pernah melihat suami yang paling mengasihi keluarganya daripada Rasulullah.

2. Mengajaknya bercanda dan merayunya

Sebab candaan dan rayuan bisa menyegarkan hati wanita, menenangkannya serta membuatnya lupa pada kecemasan-kecemasan yang ia rasakan. Dalam candaan dan rayuan itu terdapat pula daya tarik tersendiri untuk membuat istri senang mencari ridha suaminya serta bisa membuatnya semakin mencintai suaminya, itu dikarenakan perasaan bahagia yang ia dapatkan akan mendorongnya ingin menjadi istri yang lebih baik lagi bagi suaminya.

Diriwayatkan oleh Imam Hasan bin Sufyan dari sayyidina Anas bin Malik bahwasannya Rasulullah adalah sosok suami paling romantis di hadapan istrinya.

Akan tetapi dua pokok adab di atas tentu saja membutuhkan niat yang kuat dan praktik yang benar. Barulah disana akan terdapat pahala yang sangat besar bagi suami yang bisa menjalankannya dengan baik, tanpa harus menghilangkan wibawanya dihadapan istri.

Adab Istri Kepada Suami

Adapun adab-adab yang harus dijaga oleh istri terhadap suaminya adalah:

1. Tidak membebani suaminya dengan hal yang tak bisa dilaksanakan oleh sang suami.

Seperti halnya tidak menuntut suaminya bekerja keras dengan penghasilan tertentu, atau menuntut suaminya agar membelikan sesuatu di luar kebutuhan dan kewajiban. Inilah yang disebut dengan membantu suami dalam mengatur kesederhanaan ekonomi.

2. Menerima apa yang diberikan suami

Sifat menerima (qana’ah) bisa mengharmoniskan rumah tangga juga menyebabkan keluwesan, karena terlalu mengejar dunia dan rakus dalam hal dunia justru bisa melemahkan cinta di hati keduanya, bahkan bisa mendatangkan kebencian. Karena itu berapapun yang diberikan oleh suami maka hendaknya istri bisa menerimanya dengan baik, tanpa menghina dan mencaci maki.

3. Melarang Suaminya dari Pekerjaan Haram

Nisaussalaf, wanita-wanita di zaman dauhulu berkata pada suami maupun ayahnya; jauhilah pekerjaan haram, karena sesungguhnya kami bisa bersabar merasakan kelaparan dan kemiskinan, tapi kami tidak akan sanggup tersentuh api neraka. Dan darah yang mengalir dari perkara haram, maka akan membuat tubuh kita cenderung lebih suka melakukan makshiyat yang mengarah ke neraka, karena itu wajib bagi istri untul melarang suaminya melakukan pekerjaan haram.

4. Tidak Berubah sebab Perubahan Ekonomi

Jika ekonomi keluarga sedang menurun, maka istri tidak seharusnya berubah sikap maupun sifatnya. Ia bahkan harus tetap setia dan baik kepada suaminya seperti saat ekonomi sedang lancar. Karena bersabar dalam kesulitan ekonomi ini termasuk ibadah yang utama dalam ibadah pernikahan. Di ceritakan bahwa Nisaussalaf akan ikut serta membantu suaminya bekerja saat kesulitan ekonomi, entah dengan menjahit ataupun pekerjaan lainnya.

Betapa indahnya jika para wanita mampu mengerti bahwa di balik kesulitan ada kemudahan, dan bahwa kenikmatan duniawi terkadang justru membuat pemiliknya merasakan kelelahan di akhirat. Karena itu jangan hanya memikirkan kemajuan ekonomi tanpa disertai keshalihan dan keshalihahan diri.

Diriwayatkan Imam Ibnu Abiddunya, bahwasannya terkadang Rasulullah pun merasakan kelaparan, sehingga beliau mengikat beberapa batu di perutnya agar tak terlalu lapar. Beliau bersabda: ingatlah, banyak sekali orang yg mendapat kenikmatan duniawi namun kelaparan dan telanjang di hari kiamat, ingatlah banyak sekali orang yg memuliyakan dirinya sendiri namun dirinya justru merendahkannya, dan banyak sekali orang yg merendahkan dirinya namun sebenarnya dirinya memuliakannya.

5. Berbakti pada Suaminya

Berbakti artinya istri lebih mendahulukan hak suami daripada haknya sendiri. Namun tingkat bakti tertinggi seorang istri kepada suaminya adalah ketika ia bisa berbuat baik pada Ibu mertuanya, sebagai bentuk terimakasih atas didikan Ibu mertua terhadap suaminya tersebut, juga sebab ibu mertuanya telah merestui pernikahan keduanya. Di samping itu, istri harus bisa mengajak dan mendorong suaminya untuk selalu berbakti pada kedua orang tuanya, sebab bakti anak laki-laki terletak pada orang tuanya, sedang bakti anak perempuan terletak pada suaminya.

Imam Albazzar meriwayatkan dari sayyidatuna Aisyah: aku bertanya pada Rasulullah, siapakah manusia yang paling besar haknya bagi wanita? Beliau menjawab: suaminya. Aku bertanya: lantas siapakah manusia yang paling besar haknya bagi lelaki? Beliau menjawab: ibunya.

Karena itu wanita mempunyai peran yang besar dalam mengantarkan suaminya menjadi anak yang berbakti pada ibunya atau tidak.

6. Mensyukuri Nafaqah yg telah di berikan kepadanya.

Meski jika nafaqahnya itu hanya sedikit, namun hendaknya istri tetap menunjukkan rasa syukur dihadapan suaminya

7. Mendidik Anaknya dengan baik

Mendidik anak adalah tugas utama wanita, dan saat ia mendidik anaknya dengan baik maka artinya ia menjalankan adab yang baik terhadap suaminya.

8. Tidak Banyak Mengeluh pada Suaminya

Baik mengeluh tentang ekonomi, tentang hari-hari yg berat, atau apapun itu. Boleh mengeluh asalkan tidak sering, daripada mengeluh akan lebih baik jika membangun komunikasi dengan baik dan mencari penyelesaian masalah yang sedang dihadapi. Bukan sekedar keluhan-keluhan tanpa arti.

9. Tidak keluar kecuali atas seizin suami

Imam Baihaqi, imam Abu Dawud Atthayalisi dan imam Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Umar. Rasulullah bersabda: janganlah seorang wanita keluar dari rumah suaminya tanpa seizin suaminya, jika ia melakukan itu, maka Allah dan Malaikat akan melaknatnya sampai ia bertaubat, atau kembali ke rumah. Seorang bertanya: bahkan jika suaminya orang zhalim? Rasulullah menjawab: bahkan jika suaminya orang zhalim.

10. Tidak puasa kecuali atas seizin suaminya

Hal ini hanya berlaku dalam puasa sunnah, adapun puasa wajib -seperti halnya membayar hutang puasa- maka tak perlu izin suami. Jika istri puasa sunnah tanpa izin suaminya maka suami berhak menyuruhnya membatalkan puasa.

Hal-hal yang Membantu Keharmonisan Suami-Istri

Adapun hal-hal yang dapat membantu keharmonisan antara keduanya adalah:

1. Menurut

Hendaknya istri banyak menurut kepada suaminya, selagi suaminya tidak menyuruhnya maksiyat.

Diriwayatkan oleh imam Albazzar dan Atthobaroni, bahwasannya seorang wanita berkata pada Rasulullah: ya Rasulallah, sesungguhnya aku adalah delegasi para wanita yg diutus menghadapmu. Kemudian ia menyebut beberapa pahala yang di dapatkan oleh kaum lelaki dari pahala berjihad, ghanimah dan lain sebagainya. Ia bertanya: apa yang kami dapatkan dari semua itu? Rasulullah menjawab: sampaikan pada wanita-wanita yang kau temui, sesungguhnya jika kalian bersedia utk taat, menurut kepada suami kalian dan bisa menjalankan hak-haknya, maka itu akan mengimbangi pahala berjihad. Akan tetapi sedikit dari kalian yang bisa melakukannya.

Juga diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dari Ibnu Abi Aufa: ketika Muadz bin Jabal datang dr tugasnya di Syam, ia segera sujud di hadapan Rasulullah. Rasulullah bertanya: apa ini? Muadz menjawab: ya Rasulallah, aku datang dari Syam, dan di sana penduduknya sujud kepada Pembesarnya, lalu aku ingin melakukannya kepadamu. Rasulullah bersabda: tak usah kamu lakukan, jikalau aku memerintahkan manusia untuk sujud terhadap sesamanya maka aku akan memerintahkan wanita untuk sujud pada suaminya. Demi Dzat yang jiwaku dalam kekuasaanNya, wanita tak kan bisa melaksanakan hak-hak Tuhannya sehingga mereka bisa melaksanakan hak-hak suaminya.

Diriwayatkan pula oleh Imam Turmudzi, imam Hakim dan imam Ibnu Majah, Rasulullah bersabda yg artinya: siapa saja wanita yang meninggal dan suaminya ridha kepadanya maka ia akan masuk surga.

3 hadits di atas bukanlah hadits yang menyudutkan wanita, akan tetapi mengarahkan dan membimbing wanita agar menjadi istri yang baik, serta membukakan ladang ibadah yang besar melalui statusnya sebagai istri. Sifatnya yang memiliki kekurangan dalam akal dan agamanya tentulah membutuhkan bimbingan yang lebih banyak, dan Rasulullah melakukannya langsung. Karena itu para wanita patutlah memahami hadits di atas dengan baik dan bersyukur Rasulullah telah benar-benar memperhatikan mereka.

Tidak Berdebat

Bilamana terjadi perbedaan pendapat, maka usahakan untuk tidak berdebat, apalagi menyalahkan pendapat masing-masing. Cukup bicarakan dengan kepala dingin, secara terbuka dan santai. Carilah jalan keluar tanpa perdebatan.

Mudah meminta maaf dan memaafkan Kesalahan pasangan serta tidak mengungkitnya

Saling meminta maaf dan saling memaafkan adalah kunci. Terlepas siapapun yang salah, tak perlulah mengungkit-ungkit di kemudian hari, ataupun merasa lebih berjasa, lebih berkorban dan lain sebagainya. Salinglah memaafkan dan redam kesalahan itu, jadikan pelajaran saja untuk hari-hari selanjutnya.

Saling Memenuhi hak masing-masing dan tidak menuntut

Penuhilah kewajiban pasangan, bilamana terdapat kekurangan antara keduanya, maka jangan menuntut. Fokuskan pada kewajiban yang harus di lakukan oleh masing-masing sebelum saling menuntut. Suami fokus pada tugasnya, begitupula istri fokus pada tugasnya. Jangan terbalik suami fokus pada apa yang harus di lakukan istri kepadanya, dan istri fokus pada apa yang harus suami lakukan kepadanya.

***

Itulah sekelumit tentang adab pergaulan suami istri. Dan alasan mengapa adab istri terhadap suami lebih banyak tentu saja karena suami adalah tempatnya berbakti saat ini. Berbeda dengan suami yang tempat berbaktinya tetap pada orang tuanya. Namun meskipun begitu bukan berarti suami boleh menelantarkan istrinya dengan alasan berbakti pada orang tuanya. Orang tua dan istri adalah dua hal yang berbeda, istri adalah kewajibannya maka dengan berbaktinya ia kepada orang tuanya tidak akan pernah menggugurkan kewajibannya dalam merawat istrinya dengan baik. Bila mana istrinya belum menyadari bahwa bakti suaminya adalah orang tua, maka tugas suami adalah memberi pengertian sebaik mungkin kepada istrinya, dengan tetap menjaga hak-hak dan kewajibannya kepada istrinya dengan baik dan bijaksana.

Pada akhirnya, pernikahan adalah ibadah panjang dalam hidup. Jika didalamnya terdapat banyak hal yang terasa berat maupun tidak mengenakkan, itu sudah pasti karena ibadah adalah bentuk sembah kita kepada Allah dalam mencari ridhaNya. Ibadah adalah peperangan kita melawan hawa nafsu. Jalanilah pernikahan dengan hati yang lembut namun tetap kokoh, yang sanggup menerima kekurangan dan perbedaan yang ada.

{ هُنَّ لِبَاسࣱ لَّكُمۡ وَأَنتُمۡ لِبَاسࣱ لَّهُنَّۗ }
Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.
[Surat Al-Baqarah: 187]

Wallahu a’lam.
Semoga bermanfaat, salam harmonis.

Sumber: kitab Adabul Islam fi Nizhomil Usroh, karya Prof. Dr. Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani (nawwarallah dharihahu wa nafa’ana bihi wa bi ‘ulumihi fiddarain)